Rumah Pengasingan Bung Karno
Rumah Bung karno di Bengkulu merupakan rumah peninggalan Soekarno di Bengkulu, saat Soekarno menjadi tahanan politik belanda dan diasingkan dari Ende ke Bengkulu pada tahun 1938-1942, Rumah ini terletak di jalan Soekarno Hatta No 8, kecamatan Gading Cempaka, Kelurahan Anggut Atas.
Menurut dokumen di Kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Bung Karno tiba di Bengkulu pada tanggal 9 Mei 1938. Pada saat soekarno tiba di Bengkulu ia langsung mencari tempat penginapan, awalnya soekarno menginap di Hotel Centrum, namun dikarenakan ia tidak ingin berlama-lama di penginapan ia pun minta ditemani oleh M. Ali Chanafiah untuk mencari rumah sewaan di kampung Tengah Padang (Naredi H. Dkk, 2020: 92).
Setelah berjalan-jalan disekitar Bengkulu dengan ditemani M. Ali Chanafiah dan Gunadi yang sudah dikenalnya sejak pertama kali tiba di Bengkulu, Bung Karno awalnya tertarik untuk menyewa rumah panggung milik orang tua M. Ali, namun sang nenek yang sudah lanjut usia keberatan dan tidak ingin meninggalkan rumah tersebut. Sehingga Bung Karno akhirnya kembali ke penginapannya dan menginap selama dua minggu. Di tengah penantiannya, Bung Karno akhirnya menemukan sebuah rumah milik seorang Cina yang berada di kampung Anggut atas. Rumah itu dalam keadaan kosong dan tidak berpenghuni. Namun nama pemilik rumah yang ingin disewa oleh Bung Karno tersebut masih simpang siur. Terdapat beberapa sumber yang berbeda tentang pemilik awal rumah ini. Menurut catatan yang ditulis M. Ali Chanafiah, rumah uni Milik Liew Bwe Seng, namun sumber lain menyatakan bahwa rumah tersebut milik Tang Eng Cian, seorang pengusaha Supplier bahan Sembako yang bekerja untuk keperluan pemerintah Hindia Belanda di Bengkulu (Naredi H. Dkk, 2020: 94). Selain itu, sumber lain juga menyebutkan bahwa rumah itu milik seorang pedagang Tionghoa di Bengkulu yang bernama Tyang Ceng Kwat. Bahkan ada tiga sumber lainnya juga yang menjelaskan asal dari rumah ini, sumber pertama mengatakan bahwa rumah pengasingan Bung Karno di Anggut Atas, Merupakan sebuah hadiah yang diberikan seorang Muslim Tionghoa kepada Bung Karno. Sumber kedua menyatakan bahwa rumah Bung Karno merupakan rumah sewaan yang disewa oleh orang belanda untuk menempatkan Bung Karno yang dalam pengasingan, oleh seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng (Setiyanto, A., 2018: 129).
Ada sumber lainnya yang menyebut rumah itu milik pedagang keturunan Tionghoa yang bernama Tyang Ceng Kwat. Bahkan masih ada tiga sumber lagi yang tidak kalah menariknya untuk dijadikan bahan komparasi. Referensi sumber pertama menyebut bahwa rumah pengasingan di Bengkulu itu sebenarnya dihadiahkan oleh seorang muslim Tionghoa kepada Bung Karno. Sumber yang terakhir menyatakan bahwa rumah yang ditinggali oleh Bung Karno semasa diasingkan di Bengkulu merupakan Rumah milik Van der Vossen yang memiliki pabrik kebun sirih di Pantai Panjang yang dibeli oleh seorang pedagang Tionghoa bernama Tang Eng Cian yang bekerja sebagai pedagang bahan pokok di bawah pemerintahan Hinda Belanda. Sumber ketiga, menyebutkan bahwa rumah yang ditempati oleh Bung Karno di Bengkulu itu adalah rumah bekas administratur onderneming van der Vossen yang punya pabrik kebun sirih di Pantai Panjang. Rumah itu kabarnya telah dibeli oleh seorang pengusaha keturunan Cina bernama Tan Eng Cian, penyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan Hindia Belanda (Setiyanto, A., 2018: 129).
Rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu terletak di Anggut atau Kelurahan yang bernama Anggut Atas pada saat ini. Daerah Anggut telah mengalami pemekaran. Dapat dilihat pada peta A (pada bagian Foto) yang merefleksikan keadaan Kota Bengkulu pada 1891-1892. Selanjutnya, terdapat Peta B yang menggambarkan keadaan Kota Bengkulu pada 1914-1915. Pada Peta B, Kelurahan Anggut Atas saat ini adalah daerah Anggut dan daerah Anggut sebelumnya bernama Anggut Bawah (Peta A).
Rumah ini memiliki gaya arsitektur campuran antara Tionghoa dan Eropa. Warna bangunan didominasi warna putih dengan halaman depan yang cukup luas dengan rumput hijau, dan bunga-bunga serta tanaman-tanaman yang cukup terawat, sebuah tiang bendera merah putih yang berada tepat di bagian depan rumah, atap rumah terbuat dari genteng berwarna merah yang berbentuk limas dan menunjukkan ciri arsitektur Melayu. Secara keseluruhan rumah ini terlihat cukup sederhana. Selanjutnya, terdapat pula ventilasi rumah yang berupa kisi-kisi dengan hiasan ragam Cina.
Bangunan ini memiliki luas kurang lebih 165 m², dengan ukuran sekitar 9 x 18 meter. Hampir keseluruhan rumah ini berbentuk persegi panjang dengan dinding polos, Pada setiap sisi rumah terdapat jendela kaca berukuran besar yang memungkinkan untuk udara dan pencahayaan alami masuk dengan baik. Pintu dan jendelanya berdaun ganda, berbentuk persegi panjang, serta dilengkapi ventilasi dengan corak bilah-bilah kayu yang memiliki kesan tradisional. Bagian teras depan dilindungi oleh sebuah kanopi bercorak merah putih, dan area teras tersebut dikelilingi pagar sederhana yang membuat rumah tersebut memiliki kesan rapi serta teratur. Secara umum bentuk rumah ini bersifat simetris dan sederhana, sebagian perabotan-perabotan didalam rumah, merupakan replika atau hasil penataan ulang, untuk memberikan kesan atau suasana pengasingan dan perjuangan Bung Karno di Bengkulu.
Ruangan-ruangan di dalam Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu terdiri atas enam ruangan. Ruangan tersebut ialah ruang tamu yang berisi sepeda ontel dan kursi; ruang kerja Bung Karno yang memamerkan beberapa surat menyurat Soekarno saat masih berada di Bengkulu; ruang tidur Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang berisi ranjang besi tempat Bung Karno dan Ibu Fatmawati tidur, lemari pakaian, lukisan Fatmawati, surat cinta Bung Karno kepada Ibu Fatmawati, dan buku bacaan Bung Karno yang berbahasa Belanda; kamar tamu yang berisi kostum Monte Carlo, Buku-buku karya Bung Karno, dan beberapa koleksi foto; ruang tidur Ratna Djuami dan Sukarti atau Kartika; Ruang tidur anak angkat Bung Karno yang juga terdapat lemari pakaian; dan bagian belakang rumah yang terdapat sumur.
Berdasarkan naskah rekomendasi yang disusun oleh Provinsi Bengkulu, Rumah Pengasingan Bung Karno pernah menjadi markas perjuangan atau PRI pasca kemerdekaan. Tidak lama kemudian, bangunan dialihfungsikan sebagai rumah tinggal anngota AU RI. Setelah selesai digunakan oleh AU RI, bangunan digunakan oleh Stasiun RRI. Bangunan Rumah Bung Karno juga sempat menjadi kantor Pengurus KNPI DATI 1 dan II Bengkulu.
Rumah Pengasingan Bung Karno pernah direvitalisasi perbaikan pagar. Perbaikan tersebut dilakukan pada tahun 2020 dan pada tahun 2022. Beberapa program yang telah dilakukan berhubungan dengan Sosialisasi Rumah Bung Karno antara lain ialah memasang papan keterangan cagar budaya, pemberian nama cagar budaya tingkat nasional. Selain itu, pada bidang pendidikan, Rumah Bung Karno juga memiliki program juru pelihara masuk sekolah untuk mensosialisasikan pentingnya Rumah Bung Karno di Bengkulu (Kurniawan, dkk, 2021: 55, Oktaviani, R. dkk, 2025).